Hegemoni Heteronormativitas; Membongkar Seksualitas Perempuan yang Terbungkam

Jawa Pos. Minggu, 17 Feb 2008,
Memberdayakan Seksualitas Perempuan

Judul Buku : Hegemoni Heteronormativitas; Membongkar Seksualitas Perempuan yang Terbungkam
Penulis : Endah Sulistyowati, Dkk.
Penerbit : Kartini Network, Jakarta
Cetakan : I, Januari 2008
Tebal : xxxii + 397 Halaman

Nur Faizah, alumnus Yayasan Qomaruddin, Bungah, Gresik.
Mahasiswi Pascasarjana UGM Jogjakarta

Dalam beberapa tahun terakhir, perbincangan mengenai seksualitas telah mengalami perkembangan cukup berarti. Seksualitas yang sebelumnya dianggap sebagai persoalan pribadi, saat ini tampil tanpa henti di wilayah publik. Karena itu, selain baru, membincang soal seksualitas di ruang publik juga penuh tantangan. Apalagi selama masa transisi politik dan krisis ekonomi serta bencana yang serius belakangan ini, seksualitas bagi banyak orang dianggap sebagai topik pembicaraan yang tidak penting, atau bahkan penyelewengan dari diskusi serius seperti kemiskinan, krisis ekonomi, bencana, korupsi, kekerasan berbasis agama, atau tema-tema lainnya.

Kendati demikian, masa transisi dapat dipahami sebagai titik tolak untuk memahami dan mengkonsolidasi gagasan demokrasi secara menyeluruh. Dua langkah penting untuk agenda semacam itu adalah konstruksi nilai-nilai dan sistem pengetahuan yang selama ini menjadi dasar ketidakadilan sosial, dan berikutnya peletakan nilai-nilai sipil seperti toleransi, keadilan, akuntabilitas, non-kekerasan dan nilai-nilai lainnya yang fundamental bagi terwujudnya demokrasi yang ideal.

Kehadiran buku Hegemoni Heteronormativitas; Membongkar Seksualitas Perempuan yang Terbungkam hasil penelitian di dua negara, Indonesia dan India ini, seakan mempertegas kembali bahwa sudah tiba saatnya menembus batas tema-tema diskusi di atas. Karena, mempertanyakan seksualitas juga termasuk agenda penting demokratisasi. Semakin mendesak lagi karena seksualitas mempunyai wilayah internal politiknya sendiri, ketidakadilan dan modus penindasan sendiri.

Tidak bisa, misalnya, seksualitas hanya didekati dengan konsep-konsep politik konvensional, seperti demokrasi liberal, marxisme, atau feminisme. Sebab, kita tahu, feminisme sukses besar menjelaskan hubungan tidak adil antara laki-laki dan perempuan, tapi gagal memahami ketidakadilan yang bersumber pada seksualitas. Feminisme dianggap terlalu banyak terkonsentrasi pada jender. Kalau pun ada perbincangan soal seksualitas dalam feminisme, biasanya adalah persoalan seksualitas yang masih dalam bingkai heteroseksualitas.

Oleh karena itu, premis bahwa hegemoni heteronormativitas yang membentuk gagasan-gagasan tentang seksualitas yang selama ini dianggap normal perlu dipertanyakan dan dibongkar kembali. Mengapa heteronormativitas (ideologi bahwa heteroseksualitas adalah bentuk hubungan seksual yang sah) dan mengapa perlu dibongkar? Sebab, sebagaimana ditunjukkan Saskia E. Wieringa dalam pengantar buku ini, “sesungguhnya seksualitas normatif maupun seksualitas non-normatif adalah hasil sebuah konstruksi sosial” (hlm. xi).

Secara umum, buku setebal 397 halaman ini merupakan kumpulan profil dari hasil studi komparasi tentang bagaimana sistem heteronormativitas bekerja di dua masyarakat yang berbeda latar belakang sosial-budaya dan politiknya, yakni Indonesia dan India. Penelitian dilakukan terhadap tiga kelompok konstituen: janda, pekerja seks, dan lesbian, kelompok yang selama ini dipinggirkan dan dihinakan.

Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa ternyata meskipun berlatar sosial-budaya, politik, dan hukum berbeda, ada yang ajek dan lestari yaitu identitas jender serta relasi seksual hetero yang dianggap alamiah, dan karenanya harus dijaga dan dibentengi. Selain itu, buku ini ingin mengungkapkan bagaimana sistem heteronormativitas bekerja dalam konteks masyarakat Indonesia dan India dengan perbedaan dan persamaan di antara keduanya –agama, politik, sejarah, hukum– dan masalah-masalah yang dihadapi kaum perempuan.

Dengan memahami sistem heteronormativitas melalui kehidupan ke tiga kategori perempuan tersebut, memungkinkan kita mengungkapkan cara-cara perempuan mengekspresikan agensi seksualnya (sexual agency) dengan mengguncang dominasi ideologi jender yang selama ini mengontrol seksualitas mereka. Jadi dengan mencermati bagaimana janda, lesbi, dan pekerja seks bernegosiasi dengan sistem jender dan seksual yang hegemonik, akan memperdalam pemahaman kita tentang heteronormativitas itu sendiri.

Misalnya, sebagaimana dikisahkan lima pekerja seks di Jakarta dan empat PSK di New Delhi, yang memanipulasi pelanggan atau kliennya secara seksual. Dari penelitian Endah Sulistyowati dan Bharti Mohan tersebut, jelas memperlihatkan bagaimana dominasi laki-laki dikonstruksikan. Membandingkan pengalaman Indonesia dan India maka kita akan tercengang oleh perbedaan-perbedaan di antara tiga kelompok perempuan yang dikaji. Hal ini memperlihatkan bahwa jender adalah sebuah proses sosial budaya, meski di kedua negara ini jender ternyata masih dilihat sebagai sesuatu yang “alamiah” dan “stabil” (hlm. 73 dan 249).

Sebagaimana diperlihatkan oleh profil-profil di dalam buku ini, ada mekanisme pengaturan amat kuat yang lebih keras menekan perempuan daripada laki-laki untuk mempertahankan benteng normativitas. Bahkan laki-laki yang termasuk dalam kategori terstigma, seperti banci di Indonesia atau hijra di India, juga mendapatkan keuntungan dari patriarchal dividen (bonus patriarkal) tersebut. Penyimpangan seksual yang dilakukan oleh laki-laki lebih dapat diterima dibandingkan bila itu dilakukan oleh perempuan.

Namun sayangnya, hasil penelitian yang tertera dalam buku ini, sebenarnya tidak secara luas menguraikan ketimpangan jender dalam wilayah ekonomi-politik, tetapi lebih berkonsentrasi pada tatanan emosional ketiga kategori dalam gambaran permasalahan atas potensi-potensi hubungan tulus yang didasarkan pada kesetaraan seksual dalam kerangka kekuasaan jender. Tiga kategori perempuan yang diteliti seolah-olah tidak memiliki kedaulatan terhadap seksualitasnya sendiri. Baik seksualitas dalam maknanya sebagai identitas diri (self identity), tindakan seks (sex action), perilaku seksual (sexual behavior), maupun sebagai orientasi seksual (sexual orientation).

Terlepas dari kesalahan editing yang cukup mengganggu dalam buku ini, kaum perempuan dari pinggiran normativitas mendapatkan kembali suaranya dan berbicara kepada kita tentang bagaimana hidup mereka dikontrol oleh penjaga normativitas. Membaca kisah-kisah mereka, setidaknya, dapat membuka mata dan telinga kita akan potensi untuk menciptakan sebuah masyarakat yang bebas dari paksaan dan kekerasan seksual. Sehingga semua orang dapat menggali seluruh potensi dirinya untuk mencinta dan dicinta, dan daripadanya memberikan cinta kepada masyarakatnya. (*)

~ oleh RENAISANS AGENCY BOOKSTORE\\\'S pada Kamis,21 Februari 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: