Islamku, Islam anda, Islam kita

islamku.jpg

Judul Buku : ISLAMKU, ISLAM ANDA, ISLAM KITA
Penulis : ABDURRAHMAN WAHID
Penerbit : The Wahid Institut
Cetakan : II, Oktober 2006
Tebal : xxxvi + 412 Halaman.

Gus Dur menyimpulkan bahwa Islam yang dipikirkan dan dialaminya adalah Islam yang khas, yang diistilahkan sebagai “Islamku”. Tetapi Gus Dur menyatakan, “Islamku” atau “Islamnya Gus Dur” perlu dilihat sebagai rentetan pengalaman pribadi yang perlu diketahui oleh orang lain, tetapi tidak bisa dipaksakan kepada orang lain.

Sementara yang dimaksud dengan “Islam Anda”, lebih merupakan apresiasi dan refleksi Gus Dur terhadap tradisionalisme atau ritual keagamaan yang hidup dalam masyarakat. Dalam konteks ini, Gus Dur memberikan aprisiasi terhadap kepercayaan dan tradisi keagamaan sebagai ‘kebenaran’ yang dianut oleh komunitas masyarakat tertentu yang harus dihargai…

Adapun perumusan tentang “Islam Kita” lebih merupakan derivasi dari keprihatinan seseorang terhadap masa depan Islam yang didasarkan pada kepentingan bersama kaum muslimin. Visi tentang “Islam Kita” menyangkut konsep integratif yang mencakup “Islamku” dan “Islam Anda”, dan menyangkut nasib kaum muslimin seluruhnya

Tetapi persoalan mendasar dalam konteks “Islam Kita” itu terletak pada kecendrungan sementara kelompok orang untuk memaksakan konsep “Islam Kita” menurut tafsiran mereka sendiri. Monopoli tafsir kebenaran Islam seperti ini, menurut Gus Dur bertentangan dengan konsep demokrasi.

“Pembelaan” itulah kata kunci dalam kumpulan esai-esai tulisan Abdurahman Wahid kali ini. Bisa dikatakan, esai-esai ini barangkat dari perspektif korban, dalam hampir semua kasus yang dibahas. Wahid tidak pandang bulu, tidak membedakan agama, keyakinan, etnis, warna kulit, posisi sosial apapun untuk melakukannya. Bahkan, Wahid tidak ragu untuk mengorbankan image sendiri- sesuatu yang seringkali menjadi barang mahal bagi mereka yang merasa sabagai politisi terkemuka, untuk membela korban yang perlu dibela.

Maka orang sering terkecoh bahwa seolah Wahid sedang mencari muka ketika harus mengorbankan dirinya sendiri. Munculnya tuduhan sebagai ketua ketoprak, klenik, neo-PKI, dibaptis masuk kristen, kefir, murtad, agen zionis yahudi dan sebagainya, tidak menjadi beban bagi dirinya ketika harus membela korban.

Dalam esai-esainya ini, Wahid melekukan pembelaan mulai dari Inul Daratista yang dikeroyok oleh para seniman terkemuka di Jakarta dengan alasan agama, Ulil Abshar Abdalla aktivis islam Liberal yang divonis hukuman mati juga dengan alasan agama Islam oleh ulama terkemuka, sampai ancaman untuk menutup pesantren Al-Mukmin di Ngruki, Solo oleh polisi, meskipun ia tetap mengkritik pandangan Abu Bakar Ba’asyir dan pengikutnya.

~ oleh RENAISANS AGENCY BOOKSTORE\\\'S pada Kamis,6 Maret 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: